Perahu Peninggalan VOC Dipindah Ke Hutan Kota Sragen Untuk Spot Selfie

IMG-20190210-WA0012

SRAGEN — Perahu peninggalan Kongsi Dagang atau Perusahaan Hindia Timur Belanda atau Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) sudah lebih dari 20 tahun teronggok di Dukuh Jarak RT 017 Desa Karanganyar  Kecamatan Plupuh Sragen.

Pemkab Sragen berencana memindahkan perahu yang ditemukan dan diangkat dari dasar sungai pada 5 Agustus 1997 silam itu ke Taman Tirta Sari. Perahu berbahan tembaga itu sudah masuk inventarisasi Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Sragen. Seorang pegiat budaya dari Yayasan Sedulur Jagad Sukowati (Sejati) Sragen, Jarwanto, datang melihat sendiri kondisi perahu yang terletak di pinggir Bengawan Solo itu, Rabu (30/1/2019). Sejumlah aktivis dari Yayasan Sejati lainnya, seperti Agus Endarto dan Cicuk, menyusul belakangan. Sebelumnya, Koordinator Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Sragen Andjarwati Sri Sajekti bersama dua orang anggotanya juga terjun melihat kondisi perahu yang tergeletak di kebun milik warga lingkungan Dukuh Jarak RT 017 Sunaryo. Mereka melihat kondisi perahu yang semula terbengkalai dan tertimbun tanah dan sampah, kini sudah dibersihkan warga.

Slamet  57 tahun warga Jarak RT 016, dan Suhar  55 tahun warga Jarak RT 017, membersihkan tanah dan sampah dari perahu itu selama seharian pada hari Selasa (29/1/2019). Dua orang warga itu memang diperintahkan Kepala Desa Karanganyar untuk membersihkan tanah dan sampah yang menutupi perahu itu atas perintah Bupati Sragen. Sekretaris Desa (Sekdes) Karanganyar Jimin Supriyanto sempat melihat aktivitas Slamet dan Suhar saat mengeruk tanah yang menutup perahu itu. Mereka mengeruk tanah menggunakan peralatan seadanya, seperti pacul, garpu, ganco, dan alat lainnya. Kini perahu itu sudah terlihat wujud aslinya. Suradi warga yang tinggal 50 meter dari lokasi perahu, sempat mencari prasasti berupa plakat dari tripleks yang bertuliskan waktu evakuasi perahu itu dari dasar Bengawan Solo. Prasasti itu dimanfaatkan Suradi sebagai bagian dari lemari pakaian di rumahnya. “Setelah saya lihat ternyata masih ada tulisannya. Perahu peninggalan Belanda ini diangkat dari dasar Bengawan Solo pada 5 Agustus 1997. Panjangnya 8,9 meter, lebarnya 2,26 meter, dan tingginya 95 cm. Beratnya sulit dipastikan karena bahannya dari baja,” kata Suradi.

Evakuasi Perahu VOC

Suradi ingat betul saat evakuasi perahu dari dasar Bengawan Solo. Awalnya, ia mendengar cerita dari Mbah Lurah Sepuh yang tinggal tak jauh dari bibir Bengawan Solo tentang perahu Belanda yang karam di Bengawan Solo.Cerita itu didapat Mbah Lurah Sepuh dari orang tuanya secara turun temurun. Seiring waktu, warga Jarak sering menambang pasir di Bengawan Solo wilayah Dukuh Jarak tersebut.Setelah lama ditambang ternyata terlihat benda berbentuk seperti ujung perahu. “Cerita Mbah Lurah Sepuh terbukti. Ternyata besi yang menonjol di dasar sungai setelah diangkat berupa perahu. Dulu mengangkatnya menggunakan katrol berkapasitas 5 ton tidak kuat. Kemudian mencari katrol dengan kapasitas 10 ton baru kuat. Perahu diseret ke daratan pada 1997 itu,” kisah Suradi.

Suradi meyakini perahu itu ada penunggunya. Ia juga ingat saat perahu dipindah ke lokasi yang agak luas berjarak 100 meter dari lokasi sekarang ketika air Bengawan Solo meluap.Setelah dipindah, Suradi dan sejumlah orang tua di desa itu mendapat bisikan (mripeni) agar perahu dikembalikan ke lokasi semula (sekarang). Setelah itu sudah tidak terurus lagi. “Tahu-tahu ada perintah Bupati agar perahu dibersihkan dan akan dipindahkan ke Sragen. Perintah itu mendadak dan kapan dipindah saya tidak tahu,” kata Suradi.

Upacara Ritual

Suradi melakukan upacara ritual pada Selasa malam pukul 21.30 WIB. Ia berkomunikasi dengan penunggu perahu itu agar saat dipindahkan ke Sragen tetap meninggalkan sesuatu yang baik untuk warga di Dukuh Jarak.“Penunggu perahu mau dipindahkan dengan syarat. Syarat-syarat itu sudah saya berikan kepadanya, seperti dupa, kemenyan, dan seterusnya. Nah, saat saya ritual itu, ada pak tentara datang. Saya berdiri. Eh, malah ditanya, saya manusia atau bukan,” ujarnya sembari terkekeh.

Saat evakuasi perahu dari Bengawan Solo, warga juga menemukan kayu jenis angas yang diameternya sampai 2 meter dan panjang tiga meteran. Kayu itu digergaji dan diangkut menggunakan tiga unit mobil pikap sebagai bahan untuk pembangun gedung pengajian di Gedongan, Plupuh.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Penelitian dan Pengembangan (Bappeda Litbang) Sragen  Tugiyono,SH.  menyampaikan bahw perahu peninggalan VOC itu akan dipindahkan ke Taman Tirta Sari sebagai sarana untuk berswafoto.Tugiyono menyebut lokasi swafoto perahu VOC itu diletakkan di embung di tengah taman tersebut. “Perahunya baru dibersihkan. Pak Camat yang memproses segalanya. Untuk status kepemilikannya masih ditelusuri,” katanya.

Koordinator Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Sragen Andjarwati Sri Sajekti sudah berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah dan Balai Purbakala dan Balai Konservasi Borobudur di Yogyakarta untuk ekskavasi perahu VOC itu. “Saya kira perahu itu dipindahkan ke Sragen tidak apa-apa karena daripada tidak terawat. Nah, nanti konservasinya dilakukan Tim Ahli Cagar Budaya Sragen bersama BPCB dan Balai Purbakala Jogja. Konservasi dilakukan dengan membersihkan karat dan memberi pelapis pada perahu agar tidak keropos,” tuturnya. Selain itu, Andjarwati juga melakukan kajian sejarah perahu VOC itu dengan arkeolog Jogja karena jarang ditemukan peninggalan VOC di Indonesia. Proses evakuasinya baru dibicarakan sedangkan soal harinya belum ditentukan. (Sumber Solopos)