Pemkab Gelar Ketoprak Humor Menampilkan Forkopimda Kab. Sragen

311 (1)

SRAGEN – Ada agenda menarik dalam rangkaian peringatan HUT Kabupaten Sragen ke-273 kali ini yang diselenggarakan di Alun-Alun Sasono Langen Putro Sragen, Selasa (30/4/2019). Adalah pentas ketoprak humor dengan lakon “Karang Gading Sukowati”, yang mana pemaiinya diisi oleh pejabat teras Kab. Sragen serta dimeriahkan oleh bintang tamu Marwoto Kewer dan Yati Pesek.

Mulai dari Bupati Sragen dr. Kusdinar Untung Yuni Sukowati berperan sebagai Nyai Demang, Wakil Bupati Sragen Dedy Endriyatno sebagai Wongso / Lurah karang gading terpilih, jajaran Forkopimda yang berperan sebagai Punggawa Kademangan yang bernama Mbesur, Merto, Wiryo Mangun, Wiryo Noto, Wiryo Digdoyo, Wiryo Kunci dan Wiryo Bodro, tak ketinggalan Marwoto Kewer sebagai Pranoto (Suami Nyai Demang) dan Yati pesek sebagai istri Wongso.

Kehadiran sejumlah pejabat teras Kab. Sragen dalam pentas ketoprak humor tadi malam, membuat ribuan masyarakat yang hadir terhibur. Aksi para pemain ketoprak dari kalangan pejabat tersebut benar-benar mengundang gelak-tawa masyarakat Sragen karena para pemain terlihat tampil all out dalam pentas ketoprak ini.

Dalam sambutannya, Bupati Sragen dr. Kusdinar Untung Yuni Sukowati menyampaikan peringatan hari jadi Kabupaten Sragen tahun ini menjadi momentum untuk melakukan perubahan.

“Bukan saja demi kepentingan diri pribadi, keluarga, dan masyarakat, tetapi juga bagi nilai-nilai kemanusiaan dalam ruang lingkup yang lebih luas.” terangnya.

Lebih lanjut Bupati menyampaikan maksud dan tujuan diselenggarakannya ketoprak ini sebagai salah satu media cooling system setelah pemilu dan menghaturkan terima kasih kepada warga Sragen yang telah menggunakan hak pilih mencapai 80% partisipasi.

“Ini menandakan kita semua sudah mengerti arti demokrasi yang sesungguhnya, dan saya berharap pasca pemilu agar masyarakat ikut menjaga situasi, kondusifitas wilayah agar Kab Sragen tetap guyub rukun” pungkas Bupati.

Ketoprak ini, menceritakan tentang sebuah kabupaten yang dipimpin Nyai Demang ada sebuah kelurahan bernama Karang Gading terdapat konflik karena pemilihan lurah dimana salah satu calon (Pak Mbesur) tidak terima atas terpilihnya lawannya sebagai lurah terpilih (Pak Wongso) di Karang Gading. Keduanya, mempunyai putra dan putri yang saling mencintai bernama Sukro dan Melati, namun hubungan mereka terhalang karena bapak dari Melati (Pak Mbesur) tidak merestui hubungan mereka sebab ia tidak suka dengan Pak Wongso / bapaknya Sukro.

Dan Nyai Demang berhasil mendamaikan mereka, sehingga Melati dan Sukro bisa bersatu serta Pak Wongso dan Pak Mbesur juga kembali damai dan rukun. Dari cerita ini, berpesan agar seluruh elemen masyarakat bisa Guyub dan Rukun setelah pemilihan apapun hasilnya. (sumber sragenkab.go.id)