Ikuti Lomba Masak, Bupati Ingin Sambal Tumpang Go Internasional

on

sambel tumpang

Sragen – Bupati Sragen dr. Kusdinar Untung Yuni Sukowati bersama Wakil Bupati Dedy Endriytano mengikuti lomba Memasak Sambal Tumpang dalam rangka memeriahkan HUT Ke-74 Kemerdekaan RI, bertempat di Halaman Pendopo Sumonegaran Rumdin Bupati Sragen, Senin (26/8) pagi.

Lomba memasak Sambal Tumpang ini dibuka oleh Wabup Dedy dengan memukul wajan menggunakan sutil.

Dengan mengenakan batik dan celemek masak, Bupati Yuni dan Wabup Dedy terlihat lihai saat memasak sambal tumpang.

Mulai dari meracik bahan beserta bumbu-bumbunya, menghaluskan dengan ulekan kemudian menumis dan mencampurkan semua adonan yang sudah dihaluskan kedalam panci yang sudah dipanaskan sampai mengental.

Sebelum membuka lomba, Wabup menjelaskan bumbu sambal tumpang diibaratkan seperti pekerjaan kita sehari – hari.

“Sambal tumpang itu kan bumbunya banyak, ada garam yang asin, ada gula manis, ada cabai yang pedas, begitu pula saat melakukan tugas pasti ada asin, pedas, manisnya, tapi semua bisa terlewati dengan baik jika kita bekerjasama,” terang Wabup.

Selesai memasak, Bupati berharap masakan Sambal Tumpang dengan ciri khas Sragen bisa go internasional dan menjadi paten Sambel Tumpang Sragen.

“Karena saya ingin menyadarkan bahwa sambel tumpang itu adalah salah satu potensi di Sragen, sambel tumpang khasnya Sragen itu kan gurih ya, tidak pakai koyor dan sedikit encer,” terangnya.

Lomba tersebut juga menjadi ajang makan bersama antar OPD, tampak hampir seluruh peserta membawa tikar dan memakan bersama hasil olahan sambel tumpang mereka.

Hampir tiga jam berlalu, para juri selesai menilai masakan peserta. PDAM Sragen menjadi juara pertama, Juara II dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sragen, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen menjadi juara ketiga.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Pertanian Kab. Sragen dengan jumlah peserta sebanyak 78 tim yang terdiri dari
3 orang (Kepala OPD/Badan/Camat/BUMD beserta istri/suami dan 1 staf).

Penilaian dilakukan mulai dari rasa, bentuk masakan, kekompakan penampilan peserta dan kerapihan tempat masak.

Selain itu budget atau biaya yang digunakan untuk lomba masak ini maksimal 50 ribu rupiah per tim.