Pengembangan Wisata Religi Gunung Kemukus

841d8f5f-4086-4b44-9dd6-1d002691c91c

Sragen –  Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen mengisyaratkan kawasan obyek wisata Makam Pangeran Samudera atau Gunung Kemukus di Pendem, Kecamatan Sumberlawang bakal dikembangkan. Konsepnya akan ditambah menjadi wisata keluarga selain wisata religi.

Tempat wisata yang sempat kondang dengan ritual seks dan kepercayaan memperlancar rezeki itu bakal dijadikan sebagai wisata keluarga, dengan wisata air

sebagai salah satu daya tariknya. Pengembangan obyek wisata yang ada di dekat Waduk Kedungombo itu diwacanakan dilaksanakan secara multi years atau tahun jamak mulai 2020 mendatang.

“Pengembangan obyek wisata Gunung Kemukus adalah salah satu permohonan Kabupaten Sragen yang direspon pemerintah pusat,” kata Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati kepada wartawan di ruang kerjanya, Rabu (4/9/2019).

Bupati menjelaskan konsep detailnya akan dibahas kembali saat tim Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupr) dijadwalkan digelar Kamis (5/9/2019) besok.

Menurut Yuni, dua hal yang menjadi fokus di Sragen salah satunya memang pengembangan Gunung Kemukus. Menurutnya, Gunung Kemukus sudah mengerucut dan bakal dibuat Detail Engineering Design (DED).

Tahap pertama pengembangan kawasan itu dimulai pada 2020 mendatang.

“Gunung Kemukus bakal dibangun dengan konsep sebagai wisata keluarga, dimana akan ada banyak wahana permainan. Konsepnya seperti apa itu baru dibahas hari Kamis nanti,” tandasnya.

Pihaknya juga sudah duduk satu meja dengan berbagai pemangku kepentingan yang ada di wilayah sekitar makam Pangeran Samudera.

Termasuk bagaimana bangunan-bangunan yang ada di green belt atau sabuk hijau di sekitar juga harus mundur. Yuni juga memastikan, karena bakal dikonsep sebagai wisata keluarga, di Gunung Kemukus tidak akan dibangun Islamic Centre.

“Ternyata untuk membangunnya tidak bisa dalam satu tahun anggaran, harus multi years,” ungkapnya.

Menurut Yuni, tipikal Gunung Kemukus itu unik, berbeda dengan Rawapening yang tanahnya adalah tanah oro-oro (OO) yang notabene tanah milik pemerintah. Sedangkan tanah di kawasan Gunung Kemukus banyak yang sudah menjadi tanah pribadi, padahal dahulu itu adalah tanah oro-oro.

 

“Itulah kelalaian kita yang ada di pemerintahan, yang kadangkala tidak peduli dengan aset-aset yang dimiliki. Kenapa bisa ada bangunan disitu, itulah yang harus dipikirkan dan sangat luas wilayahnya,” tegasnya. (sumber joglosemarnews)