Desa Kliwonan Kembangkan Potensi Wisata Batik

WhatsApp Image 2021-06-14 at 09.11.34 (1)

SRAGEN – Pemerintah Desa Kliwonan, Kecamatan Masaran serius mengembangkan potensi desa wisata batik di wilayahnya. Para perajin batik mulai mendapat bimbingan dari pemerintah desa hingga Dinas Pemuda , Olahraga dan Pariwisata (Dispora).

Ada sekitar 21 pelaku usaha batik yang mendapat bimbingan Dispora. Penanggungjawab pembimbingan dari Dispora Sragen Adjie Mursita menyampaikan, Desa Kliwonan punya potensi batik yang bisa melibatkan lebih dari 1.000 orang. Mulai dari perajin, pengusaha, distributor dan sebagainya.

”Sudah branding sebagai desa wisata batik. Cuma branding sudah lama, tantangan sudah lama, tapi mereka belum jalan. Hingga muncul konsep desa wisata yang menyinergikan desa melalui BUMDes dan masyarakat yang ada,” terang anggota Association of The Indonesian Tours and Travel Agent (Asita) Sragen ini.

Menurutnya, desa wisata batik bisa menjadi segitiga emas pariwisata, yakni Sangiran, Kalijambe, Pasar Bahulak, Kecamatan Plupuh dan Batik Kliwonan, Kecamatan Masaran. Kesadaran desa dan masyarakat Kliwonan ini bisa membuat branding baru seperti Batik Kliwonan atau Mr. Bakli.

”Kalau di Bali ada Mr. Joger di Sragen ada Mr. Bakli,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, para pemilik showroom batik tidak perlu khawatir, karena ke depan Mr. Bakli ini merupakan produk unggulan yang dikelola desa dan dikumpulkan dalam satu wadah yang dikelola BUMDes.

Kades Kliwonan, Aswanda, Amd menyampaikan, ada ratusan perajin di Desa Kliwonan. Dengan program satu desa, satu produk (Sade Sapu) yang dicanangkan Kecamatan Masaran, diharapkan mendorong komunikasi antarperajin agar bersinergi dengan pemerintah desa melalui BUMDes.

”Dengan konsep yang berbeda, kita fokus pemberdayaan masyarakat dengan upaya mengembangkan desa wisata batik. Selain itu untuk lebih mendekatkan pada wisatawan juga akan berkomunikasi dengan biro travel,” terangnya.

Dia menambahkan, pelaku usaha batik di Kliwonan sudah ada turun temurun. Harus dihimpun dalam wadah yang baru untuk mengembangkan desa wisata. Mereka dibentuk dalam organisasi, kemudian difasilitasi kerjasama dengan BUMDes. Agar arah kebijakan guna mengembangkan desa wisata sesuai dengan aturan.

Camat Masaran, Agus Winarno menyampaikan, kades bisa meningkatkan penyertaan modal melalui BUMDes. Setelah itu kerjasama dengan para pelaku usaha untuk mewujudkan desa wisata secara bersama-sama. Pihaknya memunculkan inovasi program Sade Sapu berdasarkan pelatihan diklat PIM III BPSDMS Provinsi Jawa Tengah 2021.

”Langkah kami yakni perkumpulan kepengurusan para pelaku usaha batik dan membantu MoU dengan BUMDes untuk membantu merealisasikan desa wisata batik,” bebernya.